Rabu, 05 Juni 2013

cara membuat Stabilizer CDI-DC

halo semuanyaaa :D waktu nunjukin jam 1 malem tapi masih nggak bisa tidur mending corat-coret aja deh
ada racun baru nih buat motor kalian (udah lama apa masih baru yaa? maklum saya baru tau oom heheheh) khususnya pada kelistrikan motor yaitu stabilizer pada CDI-DC dan saya aplikasikan pada motor kesayangan saya YAMAHA BYSON. sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuan dari group facebook "Bengkel Khusus Byson" yg bagiku sangat-sangat membantu sekali ini nih link fbnya: https://www.facebook.com/groups/584090484950619/ dan juga bantuan dari Suhu Deni Dwi Septiawan (https://www.facebook.com/Ria.Deni.Septiawan) telah menjelaskan langkah-langkahnya dan juga mekanik kenalan saya yg biasanya jadi tempat curhat kalo ada racun-racun baru, mas Dian (https://www.facebook.com/dzyan.zupper).

Cara pembuatannya simpel gaaan, ga pake rumit hanya bermodal yaaa sekitar Rp. 25.000,- udah bisa jadi, untuk alat dan bahan kita siapkan telur, mentega (eeehhh maap salaaah gaaan hahahaha :D)
  1.  Elco (Electronic Capasitor) dengan ukuran min 10.000mf (microfarad) dengan nilai Volt minimal  diatas 12V 
  2.  kabel
  3. solder dan timah
  4.  isolasi listrik
  5. cable ties
  6. rokok+korek (kalo perlu)














untuk cara pembuatannya adalah :
Siapkan kapasitor/elco dengan ukuran min 10.000mf (microfarad) dengan nilai Volt min diatas 12V (bisa beli ditoko sparepart elektronik) pasangkan kabel NEGATIF elco ke rangka/massa dan POSITIF kapasitor di kabel merah list putih pada CDI dengan pemasangan kapasitor diharapkan tegangan yang masuk ke CDI-DC lebih stabil karena bantuan tegangan dari kapasitor selain dari aki. efeknya irama mesin lebih stabil, jalur kelistrikan lainnya (ex lampu, klakson dll) lebih baik. semakin besar nilai mf (microfarad) maka semakin lama jeda motor mati, mengurangi hentakan gear box dan yang pasti harapan kita CDI-DC dan perangkat listrik lain lebih awet.
untuk review kelemahan dan keunggulan CDI-DC
Kelebihan CDI DC :
-Menggunakan arus searah yang berasal dari aki.
-Arus yang keluar diputaran rendah tetap maksimal.
-Spull jarang mati karena kawat elmail yang lebih besar dari spull cdi walaupun sama kualitasnya. tapi hambatanya lebih kecil.

Kelemahan CDI DC :
-Walaupun arus yang dikeluarkan tetap tapi CDI DC sangat sensitif terhadap konsleting karena berhubungan dengan aki.
-Jika AKI sudah mulai rusak dan tak mampu mengalirkan arus yang lebih dari 11-12 volt berpengaruh terhadap kinerja CDI.
-Jika aki rusak kemungkinan terbesar CDI pun akan rusak.
-Walau banyak orang yang beranggapan motor dengan pengapian DC bisa hidup tanpa AKI karena masih ada Regulator maka salah besar. CDI DC membutuhkan arus full DC dari aki sedangkan Arus yang keluar dari regulator untuk pengisian tak seratus persen DC.
-Rata-rata CDI DC dibanderol dengan harga mahal walau itu merk biasa.
SEMOGA BERMANFAAT
 "BANYAK MEMBACA BANYAK ILMU"
untuk lebih jelasnya silahkan klik sumber : https://www.facebook.com/groups/584090484950619?view=permalink&id=646767622016238&refid=18

cara membuat sein HAZARD pada motor

 Gimana memanfaatkan sein sebagai hazard, seperti pada mobil?
Yang blom tau, hazard adalah tanda bahaya/darurat, kalo di kendaraan bermotor, umumnya roda empat, tanda hazard berupa keempat sein menyala berbarengan.
Cara Pertama
Simpel & vulgar :D
Kebanyakan user rela memodifikasi fungsi sein ke hazard dengan men”jumper” kedua jalur sein kiri & kanan. Tentu aja fungsi sein nggak ada lagi, karena meski saklar sein di-klik ke kanan/kiri, tetap keempat lampu sein nyala berbarengan. Dulunya saya pakai trik ini :D Kendalanya, cukup repot kalo mau berbelok arah karena pengendara lain nggak tau ke mana kita mau berbelok. Dan tentu cara ini menyalahi peraturan lalin. Jadi, lupakan! :D
Cara Kedua
Masih tergolong simpel …
Mirip seperti cara pertama tapi kali ini menggunakan saklar tambahan yang dikhusus tuk menyalakan hazard. Saklar yang digunakan bertipe DPST (dual-pole single-throw) … saklar ini punya 4 terminal.

Sein+Hazard sederhana
Dengan cara di atas, fungsi sein masih bisa digunakan. Kendalanya, kalo hazard sedang aktif, fungsi sein nggak bisa digunakan. Jadi kalo mau berbelok arah, hazard harus dimatikan dahulu (dengan meng-klik sakelar hazard), kemudian klik sakelar sein untuk menyalakan sein … persis kayak di mobil … Kadang ribet juga kalo lupa :D
Cara Ketiga
Dengan menggunakan modul (rangkaian elektronik) khusus untuk mengendalikan fungsi sein dan hazard. Modalnya nggak banyak … cuma perlu:
2 buah relay DPDT (Dual-Pole Dual-Throw) 8-kaki …
Catatan: Perhatikan spek relay! Sesuaikan spek relay sesuai kebutuhan … terutama voltase & amperenya. Misalkan untuk sein standar dengan bohlam 10W (karena 4 butir, total 40W), paling nggak butuh arus 3.3A tuk menyalakan hazard (4 bohlam sein menyala bersamaan), belum termasuk bohlam indikator sein di speedometer. Jadi paling nggak perlu relay dengan spek 4A atau lebih. Contoh relay di bawah bertuliskan “1A/24VDC” menunjukkan kontak relay mampu menghandle arus 1A dengan voltase maksimum 24V DC.

Relay DPDT 8-pin


Pinout & skematik relay DPDT
… 2 butir resistor 82~100 ohm 1/4 watt …

Resistor 82 ohm
… 2 butir diode rectifier 1A …

Diode rectifier 1A
… 1 buah saklar SPST (single-pole single-throw) …

Sakelar SPST (OFF-ON)
… plus beberapa potong kabel (kalo bisa warnanya sama seperti warna kabel-kabel di motor).
Modul Sein+Hazrd ala Novaera
Modul Sein+Hazrd ala Novaera
Nah, dengan modul ini, ketika hazard sedang menyala, trus saklar sein dinyalakan, hazard akan OFF sementara, dan kemudian otomatis menyala kembali ketika sein dimatikan. Jadi nggak harus mematikan hazard terlebih dahulu untuk menyalakan sein :D

Sumber: http://kotsk.wordpress.com